Jumat, 05 Desember 2014

Pemain Asing dari 13 Negara Dilarang Main di ISL

Pemain Asing dari 13 Negara Dilarang Main di ISL

AREMA BJN - Nasib pemain asing ISL terancam. Kabarnya, PT Liga Indonesia mengetok putusan baru terkait moratorium pemain asing yang ikut berkompetisi di ISL.

Mulai musim depan, para pemain dari 13 negara blacklist Clearing House (CH) pemerintah, diharamkan main di ISL. Dari informasi yang dihimpun dari internal liga, pemain asing dari 13 negara CH mau tidak mau harus angkat koper dari ISL. Ke 13 negara yang masuk moratorium atau pemberhentian sementara adalah Niger, Nigeria, Sri Lanka, Somalia, Kamerun, Liberia, Afrika Guinea, Korea Utara, Afghanistan, Pakistan, Irak, Israel dan Bangladesh.

PT LI akan segera menginstruksikan klub-klub ISL untuk tidak mengontrak pemain dari 13 negara CH sebab ada kesusahan dalam mengurus hal-hal administratif.

Para pemain Afrika yang berasal dari negara CH, bisa gigit jari musim depan. Beberapa nama pemain asing yang mungkin terancam, bahkan berasal dari klub-klub besar ISL. O.K John (Kamerun), Herman Dzumafo (Kamerun), James Koko Lomel (Liberia), Bio Paulin (Kamerun), Osas Marvelous Saha (Nigeria), David Pagbe (Kamerun), hingga Eric Weeks Luis (Liberia) adalah beberapa nama yang terancam minggat dari persepakbolaan Indonesia. (Baca juga: Indonesia, Tuan Rumah Kualifikasi Piala Asia U-23)

CEO PT Liga Indonesia, Joko Driyono tidak membantah bahwa rapat kerjanya telah memutuskan moratorium pemain dari negara CH musim depan. Menurutnya, keputusan ini disahkan demi melindungi klub-klub ISL.

"Tujuan kita adalah memproteksi klub atas kerugian ketika merekrut pemain dari negara CH. Pemain dari negara-negara ini sangat sulit tembus imigrasi, dan itu merugikan klub ISL. Special clearence yang diterapkan, merugikan klub," kata Jokdri seperti dikutip dari Malang Post.

Dengan keputusan LI untuk mengetatkan moratorium 13 negara CH, pria yang akrab disapa Jokdri ini merasa klub-klub ISL bisa mendapat pemain yang tidak bermasalah. "Konteks putusan bukan terkait policy, tapi lebih kepada proteksi kerugian klub,” sambungnya.

Mengetahui kabar ini, Manajemen Arema mengaku senang karena ada kebijakan yang memproteksi klub dari membeli pemain “kucing dalam karung,"

"Kita mendukung keputusan ini. Klub tentu tidak mau membeli kucing dalam karung. Setelah tanda tangan kontrak, ternyata dia tidak bisa dipakai untuk main di ISL, entah karena masalah Visa atau Kitas. Jelas itu merugikan klub," tegas General Arema, Ruddy Widodo seperti dikutip dari Malang Post.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar