Rabu, 21 Januari 2015

Jangan Bandingkan Si Jabrik dengan Gustavo Lopez

Jangan Bandingkan Si Jabrik dengan Gustavo Lopez

arema_bjn - Move on itu adalah sebuah hal yang enak diucapkan tapi susah dilakukan. Arema Cronus boleh saja tak juara musim 2014 lalu, tapi sosok pemain satu ini memang membuat Aremania kecewa ketika akhirnya hengkang.

Gustavo Lopez, pemain asal Argentina ini seolah menjadi jawaban lini tengah Arema musim 2014 kemarin. Kelihaiannya mengolah bola, matangnya umpan yang diberikan hingga berbahayanya eksekusi bola mati membuat peranannya sangat sentral. Karena sentralnya, ketika dia absen maka permainan Singo Edan amburadul.

Buktinya, saat pertandingan semifinal ISL melawan Persib Bandung. Saat kemenangan didepan mata sirna hilang begitu saja setelah Gustavo ditarik karena mengalami cedera.

Sentralnya seorang Gustavo pasti akan menghasilkan plus dan minus. Sisi positif tentu saja, skuad Singo Edan lebih tertata secara permainan. Pola umpan pendek terlihat lancar dan akan memanjakan barisan depan. Namun sisi negatifnya, terlalu bergantung pada satu pemain dan kemudian membuat permainan menjadi "one man show".

Jika ditanya dilepasnya Gustavo Lopez ke Terengganu FA, secara permainan tentu saja sebuah kerugian. Melepas Gustavo bukan jawaban karena kelemahan Singo Edan musim lalu bukan soal permainan lini tengah. Tapi nasi sudah menjadi bubur, mari move on !!!

Kedatangan pemain muda asal Liberia Sengbah Kennedy diharapkan menjadi jawaban hengkangnya Gustavo. Dengan memakai kaki dominan kiri, pemain dengan panggilan Jabrik ini memukau pada beberapa ujicoba tapi saat lawannya secara kualitas dibawah Arema.

Saat mulai bertemu Persija, Sriwijaya FC, Mitra Kukar hingga Persela barulah terlihat bagaimana seorang Kennedy menjawab keinginan Arema. Jawabannya, dia bukan pengganti Gustavo jadi jangan bandingkan Kennedy dengan Gustavo.

Kennedy adalah pemain yang benar-benar baru secara pola permainan untuk Arema Cronus. Pemain terbaik divisi utama 2014 ini lengket saat pegang bola, berani berduel dan punya skill yang mumpuni bahkan redaksi bilang Kennedy ini Erick Weeks yang lebih bertenaga.

Bermain selama 90 menit melawan Persela sebenarnya menjadi uji kapabilitas seorang Kennedy. Namun 45 menit babak pertama, dia seolah kebingungan harus berada di posisi mana. Entah karena penempatan posisinya jelek, pemain lain pun terlihat malas memberi umpan kepadanya. Ya sederhananya Kennedy belum dipercaya pemain lain, meski pada babak ini ia berkontribusi pada hadiah penalti yang kemudian dieksekusi dengan baik oleh Fabiano.

45 menit babak kedua menjadi cerita beda untuk Si Jabrik. Ia tampil lebih percaya diri, pemain lain pun lebih sering memberi umpan kepadanya. Satu peluang juga ia kreasikan meski masih digagalkan Khoirul Huda. Melihat hal ini, kita sebenarnya tidak perlu move on juga dari Gustavo karena Kennedy ini bukan pemain dengan tipikal sama tapi beda.

Jadi, sekali lagi jangan bandingkan Si Jabrik dengan Gustavo Lopez.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar