Jangan Bandingkan Si Jabrik dengan Gustavo Lopez
arema_bjn - Move on itu adalah sebuah hal yang enak diucapkan tapi
susah dilakukan. Arema Cronus boleh saja tak juara musim 2014 lalu, tapi
sosok pemain satu ini memang membuat Aremania kecewa ketika akhirnya hengkang.
Gustavo Lopez, pemain asal Argentina ini seolah menjadi jawaban lini
tengah Arema musim 2014 kemarin. Kelihaiannya mengolah bola, matangnya
umpan yang diberikan hingga berbahayanya eksekusi bola mati membuat
peranannya sangat sentral. Karena sentralnya, ketika dia absen maka
permainan Singo Edan amburadul.
Buktinya, saat pertandingan
semifinal ISL melawan Persib Bandung. Saat kemenangan didepan mata sirna
hilang begitu saja setelah Gustavo ditarik karena mengalami cedera.
Sentralnya seorang Gustavo pasti akan menghasilkan plus dan minus. Sisi
positif tentu saja, skuad Singo Edan lebih tertata secara permainan.
Pola umpan pendek terlihat lancar dan akan memanjakan barisan depan.
Namun sisi negatifnya, terlalu bergantung pada satu pemain dan kemudian
membuat permainan menjadi "one man show".
Jika ditanya
dilepasnya Gustavo Lopez ke Terengganu FA, secara permainan tentu saja
sebuah kerugian. Melepas Gustavo bukan jawaban karena kelemahan Singo
Edan musim lalu bukan soal permainan lini tengah. Tapi nasi sudah
menjadi bubur, mari move on !!!
Kedatangan pemain muda asal
Liberia Sengbah Kennedy diharapkan menjadi jawaban hengkangnya Gustavo.
Dengan memakai kaki dominan kiri, pemain dengan panggilan Jabrik ini
memukau pada beberapa ujicoba tapi saat lawannya secara kualitas dibawah
Arema.
Saat mulai bertemu Persija, Sriwijaya FC, Mitra Kukar
hingga Persela barulah terlihat bagaimana seorang Kennedy menjawab
keinginan Arema. Jawabannya, dia bukan pengganti Gustavo jadi jangan
bandingkan Kennedy dengan Gustavo.
Kennedy adalah pemain yang
benar-benar baru secara pola permainan untuk Arema Cronus. Pemain
terbaik divisi utama 2014 ini lengket saat pegang bola, berani berduel
dan punya skill yang mumpuni bahkan redaksi bilang Kennedy ini Erick
Weeks yang lebih bertenaga.
Bermain selama 90 menit melawan
Persela sebenarnya menjadi uji kapabilitas seorang Kennedy. Namun 45
menit babak pertama, dia seolah kebingungan harus berada di posisi mana.
Entah karena penempatan posisinya jelek, pemain lain pun terlihat malas
memberi umpan kepadanya. Ya sederhananya Kennedy belum dipercaya pemain
lain, meski pada babak ini ia berkontribusi pada hadiah penalti yang
kemudian dieksekusi dengan baik oleh Fabiano.
45 menit babak
kedua menjadi cerita beda untuk Si Jabrik. Ia tampil lebih percaya diri,
pemain lain pun lebih sering memberi umpan kepadanya. Satu peluang juga
ia kreasikan meski masih digagalkan Khoirul Huda. Melihat hal ini, kita
sebenarnya tidak perlu move on juga dari Gustavo karena Kennedy ini
bukan pemain dengan tipikal sama tapi beda.
Jadi, sekali lagi jangan bandingkan Si Jabrik dengan Gustavo Lopez.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar